Wednesday, March 11, 2015

Perjodohan

Tepat 20 hari menjelang umurku yang ke 30
Mama terdengar ingin sekali membicarakan sesuatu
Sedikit banyak sudah kuduga arahnya
Di luar perkiraan ini lebih berat dari sebelumnya
Temanya sih tak jauh-jauh
Perjodohan masi tetap jadi judul utama untukku
Putri sulung yang akan segera kepala 3 dan masih terlihat nyaman sendiri
Ogah-ogahan kusambut juga obrolan itu
Sekedar berkenalan mungkin tak jadi masalah,
Akhir kisahnya pasti akan sama saja, hilang tanpa penutup cerita
Tapi mama bercerita penuh semangat
Bahwa kedua keluarga sudah setuju
Karena ternyata masih ada kaitan saudara jauh dengan keluarganya
Keluarga baik-baik, bahasa mama menegaskan
Damn..
Kenapa harus seserius itu,
mama bahkan sudah mengkhayalkan kepindahanku keluar Jakarta
Aku makin tak menikmati obrolan ini
Dengan embel-embel kalimat 'semua tergantung keputusanku'
Nada penuh harap mama tetap jadi tekanan tak nyaman buatku
Aku baru saja memulai tapak 'level up'ku
Baru saja kutemukan tempat imanku bertumbuh dengan nyaman
Baru saja kumulai segala hal baik dalam hidupku
Masa harus segera kuhentikan dan kutinggalkan
Lalu teringat Raka "sabtu sore bersama bapak"
Raka memang menemukan jodoh sebentar setelah berumur 30
Lewat perjodohan pula
Tapi kisahku jauh berbeda
Partner perjodohanku pastilah bukan pria yang kuangankan, seperti yang Raka dapatkan
Hati kecilku berontak, bukan ini jalan yang kucari
Tapi banyak kotbah mengingatkanku sebelum ini terjadi
Bahwa rancanganku bukanlah rancangan-Nya
Bahwa Tuhan tidak selalu memberi persis seperti yang kuminta
Tapi Ia akan mempersiapkan hal-hal yang besar, yang tak terpikirkan olehku
Lalu kutenangkan hatiku
Dan Amin terjadilah sesuai rencana-Nya

11 Maret 2015, 00.00am
Kepikiran telp mama barusan sampe susah tidur