Thursday, July 31, 2014

Teman

Aku teman bukan dayang
Tak di sampingmu ketika kau memilih jalan salah
Aku teman bukan bayangan
Tak mengikuti semua gerak tingkahmu sekehendak hati
Aku yang marah ketika kau salah
Menegurmu ketika rendah diri
Mengomeli asap rokokmu yang mengganggu hidungku
Menyentil hatimu ketika ego merajai
Menyentakmu ketika lupa bangun dari dunia mimpimu
Di seberangmu waktu kau memihak yang salah
Namun bukan untuk memusuhi
Bukan berarti aku akan pergi menghindari
Telingaku akan selalu ada untukmu
Takkan menjauh ketika kau rapuh
atau berpura lupa ketika kau butuh pelipur lara
Kita bisa bersama saat pendapat berbeda
Tertawa dan membentak dalam satu frame cerita yang sama
Mencela harga pakaian dalammu yg mahal,
karena aku takkan sanggup membeli
Mengagumi kenakalanmu yang takkan mampu kulakukan
Berdansa bertiga dengan irama lagu yang berbeda
Tanpa tersandung satu dengan yang lainnya
Karena kuterima irama hidupmu
Dan tak kau protes irama hidupku
Tertawa keras mengingat tangis masa lalu
Diam diam bersyukur tak kehilangan kebersamaan ini
Akan selalu mengais sisa waktu demi bertemu
Karena kita adalah teman

1-2 Agust 2014.. Setelah kemarin seharian ketemu tim cakar, mw nulis tp ngantuk beut 'n disambung hari ini :)

Sunday, July 27, 2014

Potret keluarga

Mata gadis cilik di meja sebelah lekat mengekor
Memperhatikan detail gerak gerikku dan beberapa teman
Yang lalu tanpa sengaja memilih meja di sebelahnya
Lalu dengan penuh minat memandangi benda yang sedang sangat eksis saat ini
Benda2 bernama "tablet" dan "note" yang terhampar d mejaku
sementara menunggu teman yang berbaik hati antri demi kopi kami.
Seperti ingin tahu ada permainan apa saja di dalamnya
Lalu tersentak tiba tiba ketika ibunya menghardik
Melarangnya terus menerus berputar membelakangi meja demi memandangi kami
Patuh sebentar, tp kemudian melirik lagi
Keingintahuan anak kecil kadang tak terbendung
Lagi lagi ibunya menghardik
Padahal kami tak keberatan dipandangi
Malah tersenyum padanya
Sempat ingin membuka percakapan dengan gadis cilik itu
Maklum, aku sedang bersama teman temanku dari satu komunitas
yang setiap akhir pekan memilih menghabiskan waktu bersama anak anak jalanan dan marjinal
dengan senang hati memberikan pelukan dan belaian kasih sayang
yang sepertinya tak terlalu sering mereka dapatkan.
Mungkin kami jadi sangat peka pada perasaan seperti itu
Lalu kulihat ayahnya datang
Memerintah anak anaknya duduk dengan rapi
Kemudian membagikan gelas gelas kecil yang sepertinya berisi coklat hangat.
Ah, sepertinya keluarga yang berada
Tak mungkin gadis kecil itu kekurangan kasih sayang
Hal yang bahkan tak perlu seharian banting tulang untuk mendapatkannya,
bisa kau bagikan pada anak anak, apalagi anakmu tanpa perlu khawatir akan kehabisan.
Pada satu moment si gadis cilik memegang ujung sedotan pada gelasnya
Sang ayah yang kukira akan lebih ramah lalu menjentikkan jarinya pada tangan si gadis kecil
Sambil mengomelinya untuk memegang gelasnya saja
Si adik lelaki lebih penurut
Hanya diomeli sekali oleh ayahnya
Karena duduknya sedikit miring dan bertopang pada meja
Anak anak itu duduk sangat rapi sebagaimana diperintah ayahnya
Entah apa esensinya duduk sekaku itu di sebuah coffee shop
Kulihat keluarga di seberangku
Anak lelakinya yang gemuk membaca buku dalam posisi tengkurap
Menggunakan kursi sebagai penyangga kaki, dan pangkuan ibunya untuk menyangga badan
Begitulah seharusnya jalan jalanmu bersama keluarga
Kau toh tidak sedang di sekolah
Tiba tiba lamunanku terpecah
Si gadis cilik diomeli lagi
Kali ini karena dia mengangkat gelasnya untuk dipegangi
Agar bisa minum sambil sesekali tetap berbalik melirik ke arah mejaku
Lagi tangannya dijentik oleh sang ayah
Kali ini ibunya ikut mengomeli
Katanya si gadis kecil bertingkah seperti belum pernah bertandang ke coffee shop
Tanpa sengaja aku memandangi keluarga itu lekat
Sesaat kemudian mataku bentrok dengan mata si ibu yang sepertinya sadar diawasi
Tak enak hati, cepat cepat kualihkan pandang
Tepat waktu kopi kami datang dan mengalihkan perhatian
Masih mencuri pandang, kulihat si ayah mengeluarkan ponsel
Meminta istrinya untuk berdiri di belakang kedua anak dan menyuruh keluarganya berpose
Lalu ketiga objek foto tersenyum manis ketika potretnya diambil.
Tersenyum miris melihatnya..
Sang ayah kemudian terlihat sibuk dengan ponselnya sebentar
Sepertinya sedang memposting foto barusan di akun akun "socmed"nya
Potret yang terdiri dari seorang istri yang cantik dan sepasang anak yang manis dan lucu
Di sebuah coffee shop terkenal pada suatu hari libur
"Liburan bersama keluarga", mungkin itu judul fotonya
Sesuatu yang mungkin menurutnya harus dimiliki lelaki seusianya
Sebuah potret keluarga sempurna..

28 Juli 2014
Pagi hari setelah semalam memandangi anak2 yang duduk bersama ayah ibunya di Starbuck kokas. Hanya sibuk dengan gelas coklat masing2. Tanpa ada celoteh ramai tentang teman2 atau permainan, tanpa ada gelayut manja pada orang tua. Bahkan bergerak pun  seperti takut salah. Sepertinya lebih kurang perhatian dari adik2 marjinalku. Miris :(

Thursday, July 10, 2014

Cerita kita

Kulirik lagi namamu dalam kontak obrolanku
Ingin sekali mengucap sekedar sapa
Berharap bersambung menjadi berbaris-baris kalimat
Sesekali diselingi sticker lucu mewakili rasa
Seperti setahun yang sudah berlalu
Saat aku masih berharap padamu
Saat tak bosan aku memberi sapaan penuh makna padamu
Banyak cerita yang kita lewatkan
Beragam tema harusnya sudah kita bahas
Aku tak berani lagi membuka percakapan denganmu
Kau pun sepertinya tak kehilangan sesi itu
Bukan berarti aku lupa padamu
Hanya berusaha menahan jarak
Rasa itu muncul lagi jika terlalu sering muncul namamu
Aku sudah tak berharap lagi
Hanya rindu pada obrolan konyol kita
Namun takut harap muncul lagi
Karena tak yakin sudah tak punya rasa itu
Sekali lagi kulirik namamu
Biarlah kutunda dulu ceritaku

10 Juli 2014 @kost
Sepulang kantor, tiba2 pengen cerita tentang pilpres, tentang jalur Gaza, tentang film dll dengannya.

Wednesday, July 9, 2014

Buku biru

Di tengah sibuknya bangsa ini menghitung suara pilpres
di tengah sibukku mengacak-acak lemari
Kutemukan sebuah buku yang dulu sangat akrab denganku
Diary lucu berisi cerita remajaku
Isinya hampir selalu tentang kamu
Lalu kuhentikan sibukku
Menelusuri perlahan beberapa lembar yang tertera namamu
Di salah satu lembarnya,
mataku tertumbuk pada tulisan tanggal
Tergugu menyadari waktu
ketika kita membuat cerita itu
Sudah 12 tahun yang lalu
Dan dengan lugunya aku masih selalu mengingatmu
Lalu kuingatkan kembali diriku
Salahkulah dulu mengabaikan
Kusudahi membalik lembar-lembar itu
Sudah terlalu jauh untuk mencarimu lagi
Terlalu lama untuk mengulang kembali
Biarlah rasa itu kupendam di sana
Bisu seperti memori dalam buku biruku

9 Juli 2014 @kostan
Di tengah2 ngeberesin kembali lemari setelah tadi kubongkar demi copy ktp dan kk agar bisa memilih capresku. Yang berakhir dengan ditolak panitia, bukan dengan alasan ktp ku yg sudah expired 3 bulan. Tapi dengan alasan Lurah yg mengeluarkan KTPku adalah lurah lama, dan sekarang sudah diganti. #curcol #emangngaruh? #masihgarela #salam2jari #damaiIndonesiaku :)

Tuesday, July 8, 2014

Komedi kita

Lagi dipertemukan denganmu
Tempat yang sama,
komedi situasi berbeda
Ketika dia yang kupanggil tak juga mendengar
Malah wajahmu yang muncul mengejutkanku
Dengan ekspresi lugas yang terlambat kau sembunyikan
Ingin sekali tertawa dan kukatakan
"Ya ini memang suaraku, rindukah kau?"
Entah kenapa masih kutata sikapku
Sulit sekali bertingkah biasa
Tak bisa menganggapmu seperti yang lain
Mungkin hanya takut akan responmu.
Namun kudapati gerak gerikmu padaku
seperti ingin menyapa namun ragu
Kuputuskan berhenti mengabaikanmu
Lalu kualihkan pandang padamu
Mencoba membuka percakapan..
Sekejab ku menyesal
Yang kudapati kau sudah menjauhkan pandang dariku
Dan ganti bertingkah seolah tak ada aku
Hahaha..
Tapi memang selalu begitulah kita kan?
Hanya akan beradu dalam pandangan tanpa titik temu
Aku pun heran
Tak pernah kurencanakan pertemuan rasa denganmu
Tapi alam seolah bekerjasama membuatnya
Entah apa namanya itu
Berkali-kali sakit hati karena moment serupa
Berkali-kali patah hati pada satu pelaku
Sampai kubekukan harapku
Sekarang moment itu hanya terasa lucu
Entah bagaimana menurutmu

8 Juli 2014 @kost
2 hari setelah bertemu lagi denganmu, dan masih tersenyum geli mengingat ekspresi kepo-mu

Pergi

Satu persatu berlalu
Meninggalkanku yang makin bertingkah
Berharap diusir dengan tanda jasa
Kenapa harus mereka yang pergi
Mereka yang kusenangi
Yang jadi alasan tempat ini masih terasa nyaman
Satu per satu semua dihilangkan
Mungkin para atasan yang tak senang
Mungkin mereka tak bisa memenuhi pundi pundi
Yang jadi timbangan sang atasan
Makin gerah berlama lama di sini
Harus segera beranjak dan ikut berlalu
Tempat ini sudah tak senyaman pertama kali kudapati

8 Juli 2014
Ketika satu lagi email tentang pemecatan "another kind person" kuterima